Selasa, 15 September 2015

KONSEP PENGEMBALIAN INVESTASI

BAB I
PENDAHULUAN

1.1     Latar Belakang Masalah
Dunia globalisasi telah masuk kesemua negara membawa hal yang positif maupun negatif dalam kehidupan. Globalisasi juga telah berkembang merambat kedunia perekonomian biasanya berupa  penanaman modal pada suatu sektor industri bahkan sektor pendidikan. Setiap individu pada dasarnya memerlukan investasi, karena dengan investasi setiap orang dapat mempertahankan dan memperluas basis kekayaannya yang dapat digunakan sebagai jaminan sosial di masa depannya. Seseorang sering tidak menyadari dirinya telah melakukan investasi, misalnya dengan menabung atau dalam bentuk lainnya.
Pendidikan merupakan sebuah kebutuhan primer bagi setiap manusia yang nantinya akan membentuk manusia untuk hidup sempurna. Bagi sebagian orang pendidikanhanyalah sebuah aspek konsumtif yang mana tidak dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Pandangan klasik ini dalam memahami pendidikan hanyalah sebagai bentuk pelayanan sosial yang harus diberikan kepada mereka. Dalam konteks ini, pelayanan pendidikan dipandang sebagai bagian dari public service atau jasa layanan umum dari negara kepada masyarakat yang tidak akan membawa manfaat bagi kemajuan perekonomian bangsa.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, pandangan klasik tersebut pada saat sekarang ini sudah mulai bergeser seiring dengan kesadaran, pemikiran-pemikiran filsafat dan bukti ilmiah akan peran dan fungsi vital pendidikan dalam memajukan peradaban suatu bangsa. Bahkan bisa dikatakan bahwa hampir setiap negara sekarang ini memandang pendidikan sebagai satu sektor penting dalam memajukan suatu peradaban bangsa. Sehingga sekarang ini muncullah pandangan bahwa pendidikan merupakan investasi masa depan yang sangat menjanjikan baik untuk individu maupun kolektif.
             Pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan menyokong secara langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, dan karenanya pengeluaran untuk pendidikan harus dipandang sebagai investasi yang produktif dan tidak semata-mata dilihat sebagai sesuatu yang konsumtif tanpa manfaat balikan yang jelas (rate of return) (lik Nurul Paik, 2004).




1.2     Rumusan Masalah
Dari LatarBelakangmasalahdiatasdapatdirumuskanmasalahsebagaiberikut :
1.       Bagaimana pendidikan sebagai investasi?
2.       Bagaimana Konsep  pengembalian investasi?
3.       Faktor-faktor apa saja yang Mempengaruhi Tingkat Investasi?
4.       Bagaimana konsep Pengembalian atas Investasi Modal dan Analisis
          Profitabilitas ?
5.       Bagaimana Nilai Balik Pendidikan?

1.3         Tujuan
Setelahmembacamakalahinidiharapkandapatmemahami, yaitu :
1.       Pendidikan sebagai investasi
2.       Konsep  pengembalian investasi
3.       Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat investasi
4.       Pengembalian atas investasi modal dan analisis profitabilitas
5.       Nilai balik pendidikan













BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Pendidikan Sebagai Investasi
          Investasi dapat diartikan sebagai komitmen untuk menanamkan sejumlah dana pada saat ini dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa datang. Dengan kata lain, investasi merupakan komitmen untuk mengorbankan konsumsi sekarang dengan tujuan memperbesar konsumsi di masa datang. Investasi adalah suatu bentuk penanaman dana atau modal untuk menghasilkan kekayaan, yang akan dapat memberikan keuntungan tingkat pengembalian (return) baik pada masa sekarang atau dan di masa depan.
Menurut Jones (2004) mendefinisikan investasi sebagai: “Komitmen menanamkan sejumlah dana pada satu atau lebih aset selama beberapa periode pada masa mendatang.”
Investasi dapat berkaitan dengan penanaman sejumlah dana pada aset riil (real assets) seperti: tanah, emas, rumah, barang-barang seni, real estate dan aset riil lainnya atau pada aset finansial (financial assets), berupa surat-surat berharga yang pada dasarnya merupakan klaim atas aktiva riil yang dikuasai oleh entitas seperti: deposito, saham, obligasi, dan surat berharga lainnya. Harapan keuntungan di masa datang merupakan kompensasi atas waktu dan risiko yang terkait dengan investasi yang dilakukan. Dalam konteks investasi, harapan keuntungan tersebut sering disebut sebagai return.
          Investasi, yang lazim disebut juga dengan istilah penanaman modal atau pembentukan modal merupakan komponen kedua yang menentukan tingkat pengeluaran agregat. Dengan demikian istilah investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran atau perbelanjaan penanam-penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian.
Konsep pendidikan sebagai sebuah investasi (education as investement) telah berkembang secara pesat dan semakin diyakini oleh setiap negara bahwa pembangunan sektor pendidikan merupakan prasyarat kunci bagi pertumbuhan sektor-sektor pembangunan lainya. Konsep tentang investasi sumber daya manusia (human capital investment) yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi (economic growth), sebenarnya telah mulai dipikirkan sejak jaman Adam Smith (1776), Heinrich Von Thunen (1875) dan para teoritisi klasik lainnya sebelum abad ke 19 yang menekankan pentingnya investasi keterampilan manusia. Pemikiran ilmiah ini baru mengambil tonggak penting pada tahun 1960-an ketika pidato Theodore Schultz pada tahun 1960 yang berjudul "Investment in humman capital" di hadapan The American Economic Association merupakan peletak dasar teori human capital modern. Pesan utama dari pidato tersebut sederhana bahwa proses perolehan pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata-mata, akan tetapi juga merupakan suatu investasi.
Di negara-negara maju, pendidikan selain sebagai aspek konsumtif juga diyakini sebagai investasi modal manusia (human capital investment) dan menjadi "leading sektor" atau salah satu sektor utama. Oleh karena perhatian pemerintahnya terhadap pembangunan sektor ini sungguh-sungguh, misalnya komitmen politik anggaran sektor pendidikan tidak kalah dengan sektor lainnya, sehingga keberhasilan investasi pendidikan berkorelasi dengan kemajuan pembangunan makronya.  Pada tahun 1970-an, penelitian-penelitian mengenai hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sempat mandeg karena timbulnya kesangsian mengenai peranan pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi di beberapa negara, khususnya di Amerika Serikat dan negara berkembang yang menerima bantuan dari Bank Dunia pada waktu itu..  Kritik Becker ini justru membuka persepektif dari keyakinan filosofis bahwa pendidikan tidak pula semata-mata dihitung sebagai investasi ekonomis tetapi lebih dari itu dimensi sosial, budaya yang berorentasi pada dimensi kemanusiaan merupakan hal yang lebih penting dari sekedar investasi ekonomi. Karena pendidikan harus dilakukan oleh sebab terkait dengan kemanusiaan itu sendiri (human dignity).
Penelitian Hick (1980), Wheeler (1980), dan beberapa peneliti neoklasik lain, telah dapat menyakinkan kembali secara ilmiah akan pentingnya manusia yang terdidik menunjang pertumbuhan ekonomi secara langsung bahkan seluruh sektor pembangunan makro lainnya. Atas dasar keyakinan ilmiah itulah akhirnya Bank Dunia kembali merealisasikan program bantuan internasionalnya ke berbagai negara. Kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ini menjadi semakin kuat setelah memperhitungkan efek interaksi antara pendidikan dan investasi fisik lainnya (Psacharopoulos, 1984). Artinya, investasi modal fisik akan berlipat ganda nilai tambahnya di kemudian hari jika pada saat yang sama dilakukan juga investasi umber daya manusia, yang secara langsung akan menjadi pelaku dan pengguna dalam investasi fisik tersebut.
Sekarang diakui bahwa pengembangan sumber daya manusia  suatu negara adalah unsur pokok bagi kemakmuran, pertumbuhan dan untuk penggunaan yang efektif atas sumber daya modal fisiknya. Investasi dalam bentuk modal manusia adalah suatu komponen integral dari semua upaya pembangunan. Pendidikan harus meliputi suatu spektrum yang luas dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.

2.2     Konsep Pengembalian Investasi
Pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan menyokong secara langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, dan karenanya pengeluaran untuk pendidikan harus dipandang sebagai invetasi yang produktif dan tidak semata-mata dilihat sebagai sesuatu yang konsumtif tanpa manfaat balikan yang jelas (rate of return).
Investasi dalam bidang pendidikan mempuyai pengaruh langsung terhadap produktivitas individu dan penghasilanya. Kebanyakan bukti berasal dari pertanian. Kajian antara petani yang berpendidikan dan yang tidak berpendidikan di negara-negara berpendapatan rendah menunjukan, ketika masukan-masukan seperti pupuk dan bibit unggul tersedia untuk teknik-teknik usaha tani yang lebih baik, hasil tahunan seoarang petani yang berpendidikan selama 4 tahun rata-rata 13 persen lebih tinggi daripada seorang petani yang tidak berpendidikan. Meskipun masukan ini kurang, penghasilan para petani yang berpendidikan tetap lebih tinggi 8 persen, (World Bank, World Developmen Report, 1980).
Sebuah studi lain oleh dilakukan untuk Bank Dunia dan disajikan dalam World Development Report 1980 menguji perkiraan tingkat pengembalian ekonomi (rate of return) terhadap investasi dalam bidang pendidikan di 44 negara sedang berkembang. Disimpulkan bahwa nilai manfaat balikan semua tingkat pendidikan berada jauh di atas 10 persen.  Berbagai penelitian lainya relatif selalu menunjukan bahwa nilai balikan modal manusia lebih besar daripada modal fisik. Tidak ada negara di dunia yang mengalami kemajuan pesat dengan dukungan sumber daya manusia yang rendah pendidikannya. Jadi kalau kita mengharapkan kemajuan pembangunan dengan tidak menjadikan modal manusia (sektor pendidikan) sebagai prasyarat utama, maka sama dengan "pungguk merindukan bulan".  
Biaya pendidikan dapat diukur dengan uang atau sumber daya (input) yang digunakan dalam proses penyelengaraan pendidikan seperti pendidik, siswa, staf pegawai, buku-buku, material, peralatan, dan gedung. Semua sumber daya ini mempunyai penggunaan alternatif. Jika tidak digunakan untuk tujuan pendidikan, maka dapat dialihkan ke beberapa kegiatan lainnya. Dalam analisis ekonomi nilai sumberdaya diukur dari kesempatan (opportunity) alternatif yang dikorbankan ketika sumberdaya tersebut dialokasikan dalam pengeluaran. Klasifikasi biaya secara garis besar terbagi menjadi biaya uang (money cost) dan biaya kesempatan (opportunity cost).Biaya uang dari suatu kegiatan ekonomi adalah biaya yang riil dikeluarkan untuk penyelenggaraan pendidikan seperti gaji tenaga kependidikan, biaya bahan, dan peralatan serta biaya gedung. Sedangkan biaya kesempatan adalah biaya uang yang hilang karena sumber daya tersebut dialokasikan untuk penyelenggaraan pendidikan. Hal ini berarti bahwa biaya uang mempunyai penggunaan alternatif bidang lain di luar pendidikan, sehingga nilai yang hilang sebagai akibat melakukan investasi di bidang pendidikan disebut sebagai biaya kesempatan.
Klasifikasi biaya yang lain adalah biaya langsung oleh murid, biaya oleh masyarakat, dan biaya kesempatan. Biaya langsung murid adalah biaya riil yang dikeluarakan oleh murid untuk kegiatan proses belajar-mengajar. Biaya langsung oleh masyarakat adalah biaya yang langsung dikeluarkan oleh masyarakat sebagai akibat dari kegiatan pendidikan. Biaya kesempatan adalah biaya yang hilang sebagai akibat dari tenaga kerja yang ikut dalam kegiatan pendidikan.

Kriteria Investasi
a.          Payback Period
          Payback period adalah waktu yang dibutuhkan agar investasi yang direncanakan dapat dikembalikan, atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Jika waktu yang dibutuhkan makin pendek, proposal investasi dianggap makin baik. Kendatipun demikian, kita harus berhati-hati menafsirkan kriteria payback period ini. Sebab ada investasi yang baru menguntungkan dalam jangka panjang (> 5 tahun).
b.             Benefit/Cost Ratio (B/C Ratio).
          B/C ratio mengukur mana yang lebih besar, biaya yang dikeluarkan dibanding hasil (output) yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan dinotasikan dengan C (cost). Output yang dihasilkan dinotasikan dengan B (benefit). Keputusan menerima atau menolak proposal investasi dapat dilakukan dengan melihat nilai B/C. Umumnya, proposal investasi baru diterima jika B/C > 1, sebab berarti output yang dihasilkan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan. 
c.            Net Present Value (NPV).
          Perhitungan dengan menggunakan nilai nominal dapat menyesatkan, sebab tidak memperhitungkan nilai waktu dari uang. Untuk membuat hasil lebih akurat, maka nilai sekarang didiskontokan. Keuntungan dari menggunakan metode diskonto adalah kita dapat langsung menghitung selisih nilai sekarang dari biaya total dengan penerimaan total bersih. Selisih inilah yang disebut net present value. Suatu proposal investasi akan diterima jika NPV > 0, sebab nilai sekarang dari penerimaan total lebih besar daripada nilai sekarang dari biaya
total. 




d.            Internal Rate of Return (IRR).
          Internal rate of return adalah nilai tingkat pengembalian investasi,  dihitung pada saat NPV sama dengan nol. Keputusan menerima/menolak rencana investasi dilakukan berdasarkan hasil perbandingan IRR dengan tingkat pengembalian investasi yang diinginkan (r).
Contoh kasus:
PT. XYZ ditawarkan sebuah investasiberupa proyek pembangunan pabrik pengolahan limbah di Lampung. Usia proyek di rencanakan tujuh tahun awal dana yang di butuhkan 1 milyar.
Biaya-biaya operasional per tahun Rp 200 jt, Penerimaan per tahun Rp 400 jt, pada saat proyek di tutup tujuh tahun kemudian, nilai sisa dari barang-barang modal (investasi awal) adalah sama dengan nol. Jika dana untuk proyek berasal dari pinjaman dengan bunga 15% per tahun, hitunglah berapa besarnya investasi di terima:
Biaya yang di keluarkan, termasuk investasi awal (C), Penerimaan (B), dan suku bunga 15%.
Dapat disusun Cashflow sebagai berikut :
Cara menghitunga ada dua metode :
1.       Metode non diskonto (Non Discounted Method)
          Dengan metode non-diskonto, hamya menghitung nilai nominal arus kas keluar masuk
          Dari tabel ini dapat menghitung payback period dan B/C ratio. Payback period dilihat dari angka akumulasi arus kas bersih pada saat mencapai angka no.  B/C ratio : niali B/C = 2.800/2.400 = 1,17. B/C lebih besar dari , sehingga investasi bisa di terima

Tahun
Kas Keluar
Kas Masuk
Arus Kas Bersih
Akumulasi Arus
(C)
(B)
(B)-(C)
Kas Bersih
0
1.000
0
(1.000)
(1.000)
1
200
400
200
(800)
2
200
400
200
(600)
3
200
400
200
(400)
4
200
400
200
(200)
5
200
400
200
-
6
200
400
200
200
7
200
400
200
400
Total
2.400
2.800
400

2.       Metode diskonto (Discounted methode)
          Jika menggunakan metode diskonto, maka nilai B,C dan otomatis B,C di diskontokan sebesar 15% per tahun. Hasilnya sebagai berikut :


Tahun
Faktor Diskonto
Kas Keluar
Kas Masuk
Arus Kas Bersih
Akumulasi Arus
(15%)
(C)
(B)
(B)-(C)
Kas Bersih
0
1,00
1.000
0,00
(1.000)
(1.000)
1
0,87
174
348
174
(826)
2
0,76
152
303,00
151
(675)
3
0,66
132
263
132
(544)
4
0,57
114
229
114
(429)
5
0,50
100
200
100
(329)
6
0,43
86
173
86
(243)
7
0,38
76
151,00
75
(168)
Total
1.834
1.666
(168)

Payback periode :
          Dengan menggunakan metode diskonto, sampai tahun ke tujuh proyek belum mencapai titik impas dari angka akumulasi arus kas bersih masih negatif 168, hasil ini jauh berbeda dengan metode non diskonto
B/C Ratio :
          Ratio B/C = 1.666/1.834 = 0,91 lebih kecil dari 1, sehingga investasi ini di tolak
Net Present Value
          Angka NPV = 1.666-1.834 = -168, angkanya lebih kecil dari nol, investasi ini di tolak
Internal Rate of Return
          Dengan menggunakan cara manual di peroleh angka IRR 8%, angka ini jauh lebih kecil dari tingkat suku bunga sebesar 15%, jadi investasi ini di tolak.

2.3         Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Investasi
a.       Tingkat Pengembalian yang Diharapkan (Expected Rate of Return)
1)      Kondisi Internal Perusahaan.
          Kondisi internal adalah faktor-faktor yang  berada di bawah kontrol  Perusahaan, seperti tingkat efisiensi, kualitas SDM  dan teknologi. Sedangka  faktor non-teknis, seperti kepemilikkan hak dan atau kekuatan monopoli, kedekatan denga pusat kekuasaan, dan penguasaan jalur informasi.
2)             Kondisi Eksternal Perusahaan.
          Kondisi eksternal yang perlu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan akan investasi utama adalah perkiraan tentang tingkat produksi dan pertumbuhan ekonomi domestic maupun internasional.

b.       Biaya Investasi.
          Hal yang paling menentukan adalah tingkat bunga pinjaman. Makin tinggi tingkat bunganya maka biaya investasi makin mahal. Akibatnya minat akan investasi makin menurun. Namun tidak jarang, walaupun tingkat bunga pinjaman rendah, minat akan investasi tetap rendah. Hal ini disebabkan biaya total investasi masih tinggi dan faktor yang mempengaruhi adalah masalah kelembagaan.
c.              Marginal Efficiency of Capital (MEC), Tingkat Bunga, dan Marginal  Efficiency of Investement (MEI)
          Marginal Efficiency of Capital (MEC), Investasi, dan Tingkat Bunga  MEC adalah tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate return) dari setiap tambahan barang modal.

2.4     Pengembalian atas Investasi Modal dan Analisis Profitabilitas
          Untukdapatmemperolehgambarantentangperkembanganfinansialsuatuperusahaan, perlumengadakananalisaatauinterprestasiterhadap data finansial dari perusahaanbersangkutan, dimana ada finansialitutercermin didalamlaporankeuangan. Ukuran yang seringdigunakandalamanalisafinansialadalahratio.
MenurutKown (2004 :107) : " hasil dari menganalisislaporankeuanganadalahrasiokeuanganberupaangka-angka dan rasiokeuanganharus bisa dipertanggungjawabkan. "
Analisalaporankeuanganmenyangkutpemeriksaanketerkaitanangka-angkadalamlaporankeuangan dan trend angka-angkadalambeberapaperiode, satutujuan dari analisislaporankeuanganmenggunakankinerjaperusahaan yang laluuntukmemperkirakanbagaimana akan terjadidimasa yang akan datang.
        
a.       Analisisprofitabilitas
          Hadad dkk (2003) mendefinisikan profitabilitas sebagai dasar dari adanyaketerkaitan antara efisiensi operasional dengan kualitas jasa yang dihasilkan olehsuatu perusahaan . Profitabilitas adalah ukuran spesifik dari performance sebuah perusahaan,dimana ia merupakan tujuan dari manajemen perusahaan dengan memaksimalkannilai dari para pemegang saham, optimalisasi dari berbagai tingkat return, danmeminimalisir risiko yang ada (Hasan, 2003).
         Analisis Profitabilitas merupakan analisis yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga memberikan gambaran tentang tingkat efektifitas manajemen dalam melaksanakan kegiatan operasinya. Efektifitas manajemen disini dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi perusahaan.
         Ada juga yang mengatakan analisis profitabilitas merupakan analisis yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mendapatka laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya (Syafri, 2008:304).
         Rasio profitabilitas dianggap sebagai alat yang paling valid dalam mengukur hasilpelaksanaan operasi perusahaan, karena rasio profitabilitas merupakan alatpembanding pada berbagai alternatif investasi yang sesuai dengan tingkat risiko.Semakin besar risiko investasi, diharapkan profitabilitas yang diperoleh semakintinggi pula.
Yang termasuk dalam rasio profitabilitas adalah:
1)       Gross profit margin ( margin laba kotor), merupakan perbandingan antara penjualan bersih dikurangi dengan harga pokok penjualan dengan tingkat penjualan, rasio ini menggambarkan laba kotor yang dapt dicapai dari jumlah penjualan.
2)        Net profit margin (margin laba bersih), merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur laba bersih sesudah pajak  dibandingkan dengan volume penjualan.
3)             Earning power of total investment, merupakan rasio yng digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan netto.
4)             Return on equity (ROI), merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi seluruh pemegang saham, baik saham biasa maupun saham preferen
5)             Rasio laba usaha dengan aktiva usaha ( ratio operating income with operating ases)
b.       Menganalisa Pengembalian atas Aset Operasi Bersih
          Kategori asset menurut budisusilo (2005:37) yaitu teridiri dari asset operasi dan asset non-operasi;  1) Asset operasi adalah asset yang dipergunakan dalam aktivitas operasional perusahaan yang dipakai secara berkelanjutan  dan atau dipakai pada masa mendatang; dimiliki dan dikuasai/diduduki untuk digunakan atau dipakai dalam aktivitas operasional perusahaan,  2) Asset non-operasional adalah asset yang tidak merupakan bagian integral dari aktivitas operasional perusahaan.
         Banyak analis memisahkan neraca dan laporan laba rugi menjadi komponen operasi dan non operasi dan menghitung pengembalian asset operasi bersih (return on net operating assets – RNOA ), sebagai ringkasan ukuran kinerja. Aktivitas operasi merupakan aktivitas inti perusahaan. Dalam laporan laba rugi, aktivitas operasi biasanya meliputi penjualan, harga pokok penjualan, dan beban penjualan umum serta administrasi.Di neraca aktivitas operasi diwakili oleh asset dan kewajiban yang berhubungan dengan akun-akun laporan laba rugi di atas, seperti piutang usaha, persediaan, asset tetap, utang usaha dan beban yang masih harus dibayar.
Analisa pengembalian atas aset operasi bersih
          Pengembalian investasi modal berguna dalam evaluasi manajemen, analisis profitabilitas perencanaan dan pengendalian.Penggunaan pengembalian atas investasi modal untuk tugas-tugas di atas menuntut pemahaman menyeluruh atas pengukuran pengembalian ini.Ini karena
pengukuran pengembalian mengandung komponen yang berpotensi untuk menyumbangkan pemahaman atas kinerja perusahaan.Bagian ini akan membahas pengembalian tersebut ketika investasi modal dilihat dari sudut pandang operasi, biasanya disebut sebagai pengembalian atas asset operasi bersih (RNOA).

2.5     Nilai Balik Pendidikan
          Nilai balik pendidikan adalah perbandingan antara total biaya yang di keluarkan untuk membiayai pendidikan dengan total pendapatan yang di peroleh setelah seseorang lulus  dan memasuki dunia kerja. Di negara berkembang nilai balik investasi pendidikan lebih tinggi (20%), di bandingkan investasi modal fisik. Di negara maju nilai balik investasi pendidikan lebih rendah di banding investasi modal fisik, yaitu 9% di banding 13%







BAB III
KESIMPULAN


          Investasi dalam bidang pendidikan tidak semata-mata untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi tetapi lebih luas lagi yaitu perkembangan ekonomi. Konsep pendidikan sebagai investasi telah di yakini oleh setiap negara bahwa pembangunan sektor pendidikan merupakan prasarat kunci bagi pertumbuhan sektor pembangunan lainnya, Perkembangan ekonomi akan tercapai apabila sumber daya manusianya memiliki etika, moral, rasa tanggung jawab, rasa keadilan, jujur, serta menyadari hak dan kewajiban yang kesemuanya itu merupakan indikator hasil pendidikan yang baik.
   Analisa laporan keuangan menyangkut pemeriksaan keterkaitan angka-angka dalam laporan keuangan dan trend angka-angka dalam beberapa periode, satu tujuan dari analisis laporan keuangan menggunakan kinerja perusahaan yang lalu untuk memperkirakan bagaimana akan terjadi dimasa yang akan datang. Dengan adanya analisi laporan keuangan kita bisa menentukan kapan investasi kita bisa kembali.
Untuk mengetahui nilai balik pendidikan, yaitu dengan cara  perbandingan antara total biaya yang di keluarkan untuk membiayai pendidikan dengan total pendapatan yang di peroleh setelah seseorang lulus  dan memasuki dunia kerja















DAFTAR PUSTAKA