BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Dunia globalisasi
telah masuk kesemua negara membawa hal yang positif maupun negatif dalam
kehidupan. Globalisasi juga telah berkembang merambat kedunia perekonomian
biasanya berupa penanaman modal pada suatu sektor industri bahkan
sektor pendidikan. Setiap individu pada dasarnya memerlukan investasi,
karena dengan investasi setiap orang dapat mempertahankan dan memperluas basis
kekayaannya yang dapat digunakan sebagai jaminan sosial di masa depannya.
Seseorang sering tidak menyadari dirinya telah melakukan investasi, misalnya dengan
menabung atau dalam bentuk lainnya.
Pendidikan merupakan sebuah
kebutuhan primer bagi setiap manusia yang nantinya akan membentuk manusia untuk
hidup sempurna. Bagi sebagian orang pendidikanhanyalah sebuah aspek
konsumtif yang mana tidak dapat memberikan manfaat bagi kehidupan. Pandangan
klasik ini dalam memahami pendidikan hanyalah sebagai bentuk pelayanan sosial
yang harus diberikan kepada mereka. Dalam konteks ini, pelayanan pendidikan
dipandang sebagai bagian dari public service atau jasa layanan umum dari
negara kepada masyarakat yang tidak akan membawa manfaat bagi kemajuan
perekonomian bangsa.
Namun seiring dengan berjalannya
waktu, pandangan klasik tersebut pada saat sekarang ini sudah mulai bergeser
seiring dengan kesadaran, pemikiran-pemikiran filsafat dan bukti ilmiah akan
peran dan fungsi vital pendidikan dalam memajukan peradaban suatu bangsa.
Bahkan bisa dikatakan bahwa hampir setiap negara sekarang ini memandang
pendidikan sebagai satu sektor penting dalam memajukan suatu peradaban bangsa.
Sehingga sekarang ini muncullah pandangan bahwa pendidikan merupakan investasi
masa depan yang sangat menjanjikan baik untuk individu maupun kolektif.
Pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan menyokong secara
langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, dan karenanya
pengeluaran untuk pendidikan harus dipandang sebagai investasi yang produktif
dan tidak semata-mata dilihat sebagai sesuatu yang konsumtif tanpa manfaat
balikan yang jelas (rate of return) (lik
Nurul Paik, 2004).
1.2 Rumusan Masalah
Dari LatarBelakangmasalahdiatasdapatdirumuskanmasalahsebagaiberikut :
1. Bagaimana
pendidikan sebagai investasi?
2. Bagaimana Konsep pengembalian investasi?
3. Faktor-faktor apa saja yang Mempengaruhi Tingkat Investasi?
4. Bagaimana konsep Pengembalian atas Investasi Modal dan Analisis
Profitabilitas ?
5. Bagaimana Nilai
Balik Pendidikan?
1.3
Tujuan
Setelahmembacamakalahinidiharapkandapatmemahami, yaitu :
1. Pendidikan sebagai investasi
2. Konsep pengembalian investasi
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat investasi
4. Pengembalian atas investasi modal dan analisis
profitabilitas
5. Nilai balik pendidikan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pendidikan
Sebagai Investasi
Investasi
dapat diartikan sebagai komitmen untuk menanamkan sejumlah dana pada saat ini
dengan tujuan memperoleh keuntungan di masa datang. Dengan kata lain, investasi
merupakan komitmen untuk mengorbankan konsumsi sekarang dengan tujuan
memperbesar konsumsi di masa datang. Investasi adalah suatu bentuk penanaman
dana atau modal untuk menghasilkan kekayaan, yang akan dapat memberikan
keuntungan tingkat pengembalian (return)
baik pada masa sekarang atau dan di masa depan.
Menurut Jones (2004) mendefinisikan investasi sebagai: “Komitmen menanamkan sejumlah dana pada satu atau lebih aset selama beberapa periode pada masa mendatang.”
Investasi dapat berkaitan dengan penanaman sejumlah dana pada aset riil (real assets) seperti: tanah, emas, rumah, barang-barang seni, real estate dan aset riil lainnya atau pada aset finansial (financial assets), berupa surat-surat berharga yang pada dasarnya merupakan klaim atas aktiva riil yang dikuasai oleh entitas seperti: deposito, saham, obligasi, dan surat berharga lainnya. Harapan keuntungan di masa datang merupakan kompensasi atas waktu dan risiko yang terkait dengan investasi yang dilakukan. Dalam konteks investasi, harapan keuntungan tersebut sering disebut sebagai return.
Menurut Jones (2004) mendefinisikan investasi sebagai: “Komitmen menanamkan sejumlah dana pada satu atau lebih aset selama beberapa periode pada masa mendatang.”
Investasi dapat berkaitan dengan penanaman sejumlah dana pada aset riil (real assets) seperti: tanah, emas, rumah, barang-barang seni, real estate dan aset riil lainnya atau pada aset finansial (financial assets), berupa surat-surat berharga yang pada dasarnya merupakan klaim atas aktiva riil yang dikuasai oleh entitas seperti: deposito, saham, obligasi, dan surat berharga lainnya. Harapan keuntungan di masa datang merupakan kompensasi atas waktu dan risiko yang terkait dengan investasi yang dilakukan. Dalam konteks investasi, harapan keuntungan tersebut sering disebut sebagai return.
Investasi,
yang lazim disebut juga dengan istilah penanaman modal atau pembentukan modal
merupakan komponen kedua yang menentukan tingkat pengeluaran agregat. Dengan demikian istilah
investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran atau perbelanjaan
penanam-penanaman modal atau perusahaan untuk membeli barang-barang modal dan
perlengkapan-perlengkapan untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang
dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian.
Konsep pendidikan sebagai sebuah
investasi (education as investement) telah berkembang secara pesat dan
semakin diyakini oleh setiap negara bahwa pembangunan sektor pendidikan
merupakan prasyarat kunci bagi pertumbuhan sektor-sektor pembangunan lainya.
Konsep tentang investasi sumber daya manusia (human capital investment)
yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi (economic growth), sebenarnya
telah mulai dipikirkan sejak jaman Adam Smith (1776), Heinrich Von Thunen
(1875) dan para teoritisi klasik lainnya sebelum abad ke 19 yang menekankan
pentingnya investasi keterampilan manusia. Pemikiran ilmiah ini baru mengambil
tonggak penting pada tahun 1960-an ketika pidato Theodore Schultz pada tahun
1960 yang berjudul "Investment in
humman capital" di hadapan The
American Economic Association merupakan peletak dasar teori human capital
modern. Pesan utama dari pidato tersebut sederhana bahwa proses perolehan
pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk
konsumsi semata-mata, akan tetapi juga merupakan suatu investasi.
Di negara-negara maju, pendidikan selain
sebagai aspek konsumtif juga diyakini sebagai investasi modal manusia (human
capital investment) dan menjadi "leading
sektor" atau salah satu sektor utama. Oleh karena perhatian
pemerintahnya terhadap pembangunan sektor ini sungguh-sungguh, misalnya
komitmen politik anggaran sektor pendidikan tidak kalah dengan sektor lainnya,
sehingga keberhasilan investasi pendidikan berkorelasi dengan kemajuan
pembangunan makronya. Pada tahun
1970-an, penelitian-penelitian mengenai hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan
ekonomi sempat mandeg karena timbulnya kesangsian mengenai peranan pendidikan
terhadap pertumbuhan ekonomi di beberapa negara, khususnya di Amerika Serikat
dan negara berkembang yang menerima bantuan dari Bank Dunia pada waktu itu.. Kritik Becker ini justru membuka persepektif
dari keyakinan filosofis bahwa pendidikan tidak pula semata-mata dihitung
sebagai investasi ekonomis tetapi lebih dari itu dimensi sosial, budaya yang
berorentasi pada dimensi kemanusiaan merupakan hal yang lebih penting dari
sekedar investasi ekonomi. Karena pendidikan harus dilakukan oleh sebab terkait
dengan kemanusiaan itu sendiri (human dignity).
Penelitian Hick (1980), Wheeler
(1980), dan beberapa peneliti neoklasik lain, telah dapat menyakinkan kembali
secara ilmiah akan pentingnya manusia yang terdidik menunjang pertumbuhan
ekonomi secara langsung bahkan seluruh sektor pembangunan makro lainnya. Atas
dasar keyakinan ilmiah itulah akhirnya Bank Dunia kembali merealisasikan
program bantuan internasionalnya ke berbagai negara. Kontribusi pendidikan
terhadap pertumbuhan ini menjadi semakin kuat setelah memperhitungkan efek
interaksi antara pendidikan dan investasi fisik lainnya (Psacharopoulos, 1984).
Artinya, investasi modal fisik akan berlipat ganda nilai tambahnya di kemudian
hari jika pada saat yang sama dilakukan juga investasi umber daya manusia, yang
secara langsung akan menjadi pelaku dan pengguna dalam investasi fisik
tersebut.
Sekarang diakui bahwa pengembangan
sumber daya manusia suatu negara adalah
unsur pokok bagi kemakmuran, pertumbuhan dan untuk penggunaan yang efektif atas
sumber daya modal fisiknya. Investasi
dalam bentuk modal manusia adalah suatu komponen integral dari semua upaya
pembangunan. Pendidikan harus meliputi suatu spektrum yang luas dalam kehidupan
masyarakat itu sendiri.
2.2 Konsep Pengembalian Investasi
Pembangunan
sumber daya manusia melalui pendidikan menyokong secara langsung terhadap
pertumbuhan ekonomi, dan karenanya pengeluaran untuk pendidikan harus dipandang
sebagai invetasi yang produktif dan tidak semata-mata dilihat sebagai sesuatu
yang konsumtif tanpa manfaat balikan yang jelas (rate of return).
Investasi dalam bidang pendidikan mempuyai pengaruh langsung terhadap
produktivitas individu dan penghasilanya. Kebanyakan bukti berasal dari
pertanian. Kajian antara petani yang berpendidikan dan yang tidak berpendidikan
di negara-negara berpendapatan rendah menunjukan, ketika masukan-masukan
seperti pupuk dan bibit unggul tersedia untuk teknik-teknik usaha tani yang
lebih baik, hasil tahunan seoarang petani yang berpendidikan selama 4 tahun
rata-rata 13 persen lebih tinggi daripada seorang petani yang tidak
berpendidikan. Meskipun masukan ini kurang, penghasilan para petani yang
berpendidikan tetap lebih tinggi 8 persen, (World Bank, World Developmen
Report, 1980).
Sebuah studi
lain oleh dilakukan untuk Bank Dunia dan disajikan dalam World Development
Report 1980 menguji perkiraan tingkat pengembalian ekonomi (rate of return) terhadap investasi dalam bidang pendidikan di 44
negara sedang berkembang. Disimpulkan bahwa nilai manfaat balikan semua tingkat
pendidikan berada jauh di atas 10 persen.
Berbagai penelitian lainya relatif selalu menunjukan bahwa nilai balikan
modal manusia lebih besar daripada modal fisik. Tidak ada negara di dunia yang
mengalami kemajuan pesat dengan dukungan sumber daya manusia yang rendah pendidikannya. Jadi kalau kita mengharapkan kemajuan
pembangunan dengan tidak menjadikan modal manusia (sektor pendidikan) sebagai
prasyarat utama, maka sama dengan "pungguk merindukan bulan".
Biaya pendidikan dapat diukur dengan
uang atau sumber daya (input) yang
digunakan dalam proses penyelengaraan pendidikan seperti pendidik, siswa, staf
pegawai, buku-buku, material, peralatan, dan gedung. Semua sumber daya ini
mempunyai penggunaan alternatif. Jika tidak digunakan untuk tujuan pendidikan,
maka dapat dialihkan ke beberapa kegiatan lainnya. Dalam analisis ekonomi nilai
sumberdaya diukur dari kesempatan (opportunity)
alternatif yang dikorbankan ketika sumberdaya tersebut dialokasikan dalam
pengeluaran. Klasifikasi biaya secara garis besar terbagi menjadi biaya uang (money cost) dan biaya kesempatan (opportunity cost).Biaya uang dari suatu
kegiatan ekonomi adalah biaya yang riil dikeluarkan untuk penyelenggaraan
pendidikan seperti gaji tenaga kependidikan, biaya bahan, dan peralatan serta
biaya gedung. Sedangkan biaya kesempatan adalah biaya uang yang hilang karena
sumber daya tersebut dialokasikan untuk penyelenggaraan pendidikan. Hal ini
berarti bahwa biaya uang mempunyai penggunaan alternatif bidang lain di luar
pendidikan, sehingga nilai yang hilang sebagai akibat melakukan investasi di
bidang pendidikan disebut sebagai biaya kesempatan.
Klasifikasi biaya yang lain adalah
biaya langsung oleh murid, biaya oleh masyarakat, dan biaya kesempatan. Biaya
langsung murid adalah biaya riil yang dikeluarakan oleh murid untuk kegiatan
proses belajar-mengajar. Biaya langsung oleh masyarakat adalah biaya yang
langsung dikeluarkan oleh masyarakat sebagai akibat dari kegiatan pendidikan.
Biaya kesempatan adalah biaya yang hilang sebagai akibat dari tenaga kerja yang
ikut dalam kegiatan pendidikan.
Kriteria
Investasi
a.
Payback Period.
Payback
period adalah waktu yang dibutuhkan agar investasi yang direncanakan dapat
dikembalikan, atau waktu yang dibutuhkan untuk mencapai titik impas. Jika waktu
yang dibutuhkan makin pendek, proposal investasi dianggap makin baik.
Kendatipun demikian, kita harus berhati-hati menafsirkan kriteria payback
period ini. Sebab ada investasi yang baru menguntungkan dalam jangka panjang
(> 5 tahun).
b. Benefit/Cost
Ratio (B/C Ratio).
B/C
ratio mengukur mana yang lebih besar, biaya yang dikeluarkan dibanding
hasil (output) yang diperoleh. Biaya yang dikeluarkan dinotasikan dengan C
(cost). Output yang dihasilkan dinotasikan dengan B (benefit). Keputusan
menerima atau menolak proposal investasi dapat dilakukan dengan melihat nilai
B/C. Umumnya, proposal investasi baru diterima jika B/C > 1, sebab berarti
output yang dihasilkan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan.
c. Net Present
Value (NPV).
Perhitungan dengan menggunakan nilai
nominal dapat menyesatkan, sebab tidak memperhitungkan nilai waktu dari uang.
Untuk membuat hasil lebih akurat, maka nilai sekarang didiskontokan. Keuntungan
dari menggunakan metode diskonto adalah kita dapat langsung menghitung selisih
nilai sekarang dari biaya total dengan penerimaan total bersih. Selisih inilah
yang disebut net present value. Suatu proposal investasi akan diterima jika NPV
> 0, sebab nilai sekarang dari penerimaan total lebih besar daripada nilai
sekarang dari biaya
total.
d. Internal
Rate of Return (IRR).
Internal
rate of return adalah nilai tingkat pengembalian investasi, dihitung
pada saat NPV sama dengan nol. Keputusan menerima/menolak rencana investasi
dilakukan berdasarkan hasil perbandingan IRR dengan tingkat pengembalian
investasi yang diinginkan (r).
Contoh kasus:
PT. XYZ
ditawarkan sebuah investasiberupa proyek pembangunan pabrik pengolahan limbah
di Lampung. Usia proyek di rencanakan tujuh tahun awal dana yang di butuhkan 1
milyar.
Biaya-biaya
operasional per tahun Rp 200 jt, Penerimaan per tahun Rp 400 jt, pada saat proyek
di tutup tujuh tahun kemudian, nilai sisa dari barang-barang modal (investasi
awal) adalah sama dengan nol. Jika dana untuk proyek berasal dari pinjaman
dengan bunga 15% per tahun, hitunglah berapa besarnya investasi di terima:
Biaya yang
di keluarkan, termasuk investasi awal (C), Penerimaan (B), dan suku bunga 15%.
Dapat disusun Cashflow sebagai berikut :
Cara
menghitunga ada dua metode :
1. Metode non diskonto (Non Discounted Method)
Dengan metode non-diskonto, hamya
menghitung nilai nominal arus kas keluar masuk
Dari tabel ini dapat menghitung
payback period dan B/C ratio. Payback period dilihat dari angka akumulasi arus
kas bersih pada saat mencapai angka no.
B/C ratio : niali B/C = 2.800/2.400 = 1,17. B/C lebih besar dari ,
sehingga investasi bisa di terima
|
Tahun
|
Kas
Keluar
|
Kas
Masuk
|
Arus
Kas Bersih
|
Akumulasi
Arus
|
|
(C)
|
(B)
|
(B)-(C)
|
Kas
Bersih
|
|
|
0
|
1.000
|
0
|
(1.000)
|
(1.000)
|
|
1
|
200
|
400
|
200
|
(800)
|
|
2
|
200
|
400
|
200
|
(600)
|
|
3
|
200
|
400
|
200
|
(400)
|
|
4
|
200
|
400
|
200
|
(200)
|
|
5
|
200
|
400
|
200
|
-
|
|
6
|
200
|
400
|
200
|
200
|
|
7
|
200
|
400
|
200
|
400
|
|
Total
|
2.400
|
2.800
|
400
|
2. Metode diskonto (Discounted methode)
Jika menggunakan metode diskonto, maka
nilai B,C dan otomatis B,C di diskontokan sebesar 15% per tahun. Hasilnya
sebagai berikut :
|
Tahun
|
Faktor
Diskonto
|
Kas
Keluar
|
Kas
Masuk
|
Arus
Kas Bersih
|
Akumulasi
Arus
|
|
(15%)
|
(C)
|
(B)
|
(B)-(C)
|
Kas
Bersih
|
|
|
0
|
1,00
|
1.000
|
0,00
|
(1.000)
|
(1.000)
|
|
1
|
0,87
|
174
|
348
|
174
|
(826)
|
|
2
|
0,76
|
152
|
303,00
|
151
|
(675)
|
|
3
|
0,66
|
132
|
263
|
132
|
(544)
|
|
4
|
0,57
|
114
|
229
|
114
|
(429)
|
|
5
|
0,50
|
100
|
200
|
100
|
(329)
|
|
6
|
0,43
|
86
|
173
|
86
|
(243)
|
|
7
|
0,38
|
76
|
151,00
|
75
|
(168)
|
|
Total
|
1.834
|
1.666
|
(168)
|
Payback periode :
Dengan menggunakan metode diskonto,
sampai tahun ke tujuh proyek belum mencapai titik impas dari angka akumulasi
arus kas bersih masih negatif 168, hasil ini jauh berbeda dengan metode non
diskonto
B/C Ratio :
Ratio B/C = 1.666/1.834 = 0,91 lebih
kecil dari 1, sehingga investasi ini di tolak
Net Present Value
Angka NPV = 1.666-1.834 = -168,
angkanya lebih kecil dari nol, investasi ini di tolak
Internal Rate of Return
Dengan menggunakan cara manual di
peroleh angka IRR 8%, angka ini jauh lebih kecil dari tingkat suku bunga
sebesar 15%, jadi investasi ini di tolak.
2.3
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Tingkat Investasi
a. Tingkat
Pengembalian yang Diharapkan (Expected Rate of Return)
1) Kondisi Internal Perusahaan.
Kondisi internal adalah
faktor-faktor yang berada di bawah kontrol Perusahaan, seperti
tingkat efisiensi, kualitas SDM dan teknologi. Sedangka faktor
non-teknis, seperti kepemilikkan hak dan atau kekuatan monopoli, kedekatan
denga pusat kekuasaan, dan penguasaan jalur informasi.
2)
Kondisi Eksternal Perusahaan.
Kondisi eksternal yang perlu
dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan akan investasi utama adalah
perkiraan tentang tingkat produksi dan pertumbuhan ekonomi domestic maupun
internasional.
b. Biaya
Investasi.
Hal yang paling menentukan
adalah tingkat bunga pinjaman. Makin tinggi tingkat bunganya maka biaya
investasi makin mahal. Akibatnya minat akan investasi makin menurun. Namun
tidak jarang, walaupun tingkat bunga pinjaman rendah, minat akan investasi
tetap rendah. Hal ini disebabkan biaya total investasi masih tinggi dan faktor
yang mempengaruhi adalah masalah kelembagaan.
c.
Marginal Efficiency of Capital (MEC), Tingkat Bunga,
dan Marginal Efficiency of
Investement (MEI)
Marginal
Efficiency of Capital (MEC), Investasi, dan Tingkat Bunga MEC adalah
tingkat pengembalian yang diharapkan (expected
rate return) dari setiap tambahan barang modal.
2.4 Pengembalian atas Investasi Modal dan
Analisis Profitabilitas
Untukdapatmemperolehgambarantentangperkembanganfinansialsuatuperusahaan,
perlumengadakananalisaatauinterprestasiterhadap data finansial dari
perusahaanbersangkutan, dimana ada finansialitutercermin didalamlaporankeuangan.
Ukuran yang seringdigunakandalamanalisafinansialadalahratio.
MenurutKown (2004 :107) :
" hasil dari
menganalisislaporankeuanganadalahrasiokeuanganberupaangka-angka dan
rasiokeuanganharus bisa dipertanggungjawabkan. "
Analisalaporankeuanganmenyangkutpemeriksaanketerkaitanangka-angkadalamlaporankeuangan
dan trend angka-angkadalambeberapaperiode, satutujuan dari
analisislaporankeuanganmenggunakankinerjaperusahaan yang
laluuntukmemperkirakanbagaimana akan terjadidimasa yang akan datang.
a. Analisisprofitabilitas
Hadad dkk (2003) mendefinisikan profitabilitas sebagai dasar dari adanyaketerkaitan antara
efisiensi operasional dengan kualitas jasa yang dihasilkan olehsuatu perusahaan
. Profitabilitas adalah ukuran spesifik dari performance sebuah
perusahaan,dimana ia merupakan tujuan dari manajemen perusahaan dengan
memaksimalkannilai dari para pemegang saham, optimalisasi dari berbagai tingkat
return, danmeminimalisir risiko yang ada (Hasan, 2003).
Analisis Profitabilitas merupakan
analisis yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga memberikan gambaran tentang
tingkat efektifitas manajemen dalam melaksanakan kegiatan operasinya.
Efektifitas manajemen disini dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap
penjualan dan investasi perusahaan.
Ada juga yang mengatakan analisis
profitabilitas merupakan analisis yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam
mendapatka laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan
penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya (Syafri,
2008:304).
Rasio
profitabilitas dianggap sebagai alat yang paling valid dalam mengukur
hasilpelaksanaan operasi perusahaan, karena rasio profitabilitas merupakan
alatpembanding pada berbagai alternatif investasi yang sesuai dengan tingkat
risiko.Semakin besar risiko investasi, diharapkan profitabilitas yang diperoleh
semakintinggi pula.
Yang termasuk dalam rasio
profitabilitas adalah:
1)
Gross profit margin ( margin
laba kotor), merupakan perbandingan antara penjualan bersih dikurangi dengan
harga pokok penjualan dengan tingkat penjualan, rasio ini menggambarkan laba
kotor yang dapt dicapai dari jumlah penjualan.
2)
Net profit margin (margin
laba bersih), merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur laba bersih sesudah
pajak dibandingkan dengan volume
penjualan.
3)
Earning
power of total investment, merupakan rasio yng digunakan untuk mengukur
kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk
menghasilkan keuntungan netto.
4)
Return on
equity (ROI), merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur
kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi seluruh
pemegang saham, baik saham biasa maupun saham preferen
5)
Rasio laba usaha dengan aktiva usaha
( ratio operating income with operating
ases)
b. Menganalisa Pengembalian
atas Aset Operasi Bersih
Kategori
asset menurut budisusilo (2005:37) yaitu teridiri dari asset operasi dan asset
non-operasi; 1) Asset operasi adalah
asset yang dipergunakan dalam aktivitas operasional perusahaan yang dipakai
secara berkelanjutan dan atau dipakai
pada masa mendatang; dimiliki dan dikuasai/diduduki untuk digunakan atau
dipakai dalam aktivitas operasional perusahaan,
2) Asset non-operasional adalah asset yang tidak merupakan bagian
integral dari aktivitas operasional perusahaan.
Banyak
analis memisahkan neraca dan laporan laba rugi menjadi komponen operasi dan non
operasi dan menghitung pengembalian asset operasi bersih (return on net operating assets – RNOA ), sebagai ringkasan ukuran
kinerja. Aktivitas operasi merupakan aktivitas inti perusahaan. Dalam laporan
laba rugi, aktivitas operasi biasanya meliputi penjualan, harga pokok
penjualan, dan beban penjualan umum serta administrasi.Di neraca aktivitas
operasi diwakili oleh asset dan kewajiban yang berhubungan dengan akun-akun
laporan laba rugi di atas, seperti piutang usaha, persediaan, asset tetap,
utang usaha dan beban yang masih harus dibayar.
Analisa pengembalian atas aset operasi bersih
Pengembalian
investasi modal berguna dalam evaluasi manajemen, analisis profitabilitas
perencanaan dan pengendalian.Penggunaan pengembalian atas investasi modal untuk
tugas-tugas di atas menuntut pemahaman menyeluruh atas pengukuran pengembalian
ini.Ini karena
pengukuran pengembalian mengandung
komponen yang berpotensi untuk menyumbangkan pemahaman atas kinerja
perusahaan.Bagian ini akan membahas pengembalian tersebut ketika investasi
modal dilihat dari sudut pandang operasi, biasanya disebut sebagai pengembalian
atas asset operasi bersih (RNOA).
2.5 Nilai Balik Pendidikan
Nilai balik pendidikan adalah perbandingan antara
total biaya yang di keluarkan untuk membiayai pendidikan dengan total
pendapatan yang di peroleh setelah seseorang lulus dan memasuki dunia kerja. Di negara
berkembang nilai balik investasi pendidikan lebih tinggi (20%), di bandingkan
investasi modal fisik. Di negara maju nilai balik investasi pendidikan lebih
rendah di banding investasi modal fisik, yaitu 9% di banding 13%
BAB
III
KESIMPULAN
Investasi
dalam bidang pendidikan tidak semata-mata untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi
tetapi lebih luas lagi yaitu perkembangan ekonomi. Konsep pendidikan sebagai
investasi telah di yakini oleh setiap negara bahwa pembangunan sektor
pendidikan merupakan prasarat kunci bagi pertumbuhan sektor pembangunan
lainnya, Perkembangan ekonomi akan tercapai apabila sumber
daya manusianya memiliki etika, moral, rasa tanggung jawab, rasa keadilan,
jujur, serta menyadari hak dan kewajiban yang kesemuanya itu merupakan
indikator hasil pendidikan yang baik.
Analisa laporan keuangan menyangkut pemeriksaan keterkaitan angka-angka dalam laporan keuangan dan trend angka-angka dalam beberapa periode, satu tujuan dari analisis laporan keuangan menggunakan kinerja perusahaan yang lalu untuk memperkirakan bagaimana akan terjadi dimasa yang akan datang. Dengan adanya analisi laporan keuangan kita
bisa menentukan kapan investasi kita bisa kembali.
Untuk mengetahui nilai balik pendidikan, yaitu
dengan cara perbandingan antara total
biaya yang di keluarkan untuk membiayai pendidikan dengan total pendapatan yang
di peroleh setelah seseorang lulus dan
memasuki dunia kerja
DAFTAR PUSTAKA