Jumat, 02 Januari 2015

TUGAS MANAJEMEN PERUBAHAN



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
             Apabila para manajer memikirkan masa depan organisasi-organisasi mereka pada abad ke-2, maka mereka kiranya tidak dapat mengelakkan diri dari perubahan dan kegiatan perubahan,makin lama makin banyak bermunculan dalam warta-warta harian,majalah,artikel-artikel,dan pidato-pidato yang di sampaikan untuk kepentingan khalayak ramai. Dalam kurun waktu puluhan tahun, telah kita menyaksikan aneka macam perubahhan yang menimbulkan dampak luas dalam sejarah umat manusia. Perusahaan-perusahaan computer bermunculan di mana-mana,dengan teknologi mereka yang terus menerus berkembang dan menggalami perubahan.
Negara soviet Russia,yang sekian waktu yang lampau merupakan Negara adi kuasa sudah tidak ada lagi. Singkat kata,perubahan telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan modern manusia.
Para manajer efektif perlu memandang kegiatan mereka dalam hal memanage perubahan sebagian kegiatan suatu tanggung jawab yang bersifat integral,dan bukan sekedar sebagai kegiatan yang sambil lalu. Para manajer,di samping harus menangani kegiatan memanage perubahan,harus pula mengembangkan pendekatan-pendekatan guna mengembangkan dan mengimplementasikan inovasi. Produk-produk inovatif,proses-proses inovatif dan praktik-praktik inovatif telah menjadi kebiasaan,dan bukan kekecualian dan kegiatan memanage perubahan serta inovasi secara jalin menjalin telah berkembang menjadi tanggung jawab penting para manajer abad ke-21
Tetapi,perlu segera diingatkan bahwa dalam kenyataan,tidak semua organisasi akan secara berhasil melaksanakan perubahan-perubahan yang tepat atau mengadopsi inovasi-inovasi yang bersifat efektif. Memanage perubahan.dengan sendirinya menuntut adanya perubahan prilaku para manajer,dan untuk itu diperlukan perubahan-perubahan dalam nilai dan system nilai mereka. Perubahan perlu juga melibatkan pemikiran individu-individu,kelompok-kelompok di dalam organisasi,dan akhirnya juga organisasi itu sendiri,yang pada akhirnya berarti perubahan pada prilaku ke organisasian. Memanage perubahan dan studi tentang perubahan,memerlukan pemahaman sejumlah disiplin-disiplin ilmu social yang bersifat interdisipliner. Hal tersebut dengan sendirinya juga berlaku bagi studi serta penerapan prilaku keorganisasian.
Topik memanage perubahan merupakan sebuah topik,yang paling dekat dengan penguraian totalitas tugas seorang manajer. Hampir segala sesuatu yang dilakukan seseorang manajer hingga tingkat tertentu berkaitan dengan implementasi perubahan. Memperkerjakan seorang karyawan baru (mengubah kelompok kerja),membeli peralatan baru (mengubah metode kerja),dan mengatur kembali titik-titik/pusat pekerjaan (mengubah arus pekerjaan) kesemuanya memerlukan pengetahuan tentang bagaimana cara memanage perubahan secara efektif.  
B. Identifikasi Masalah
Perubahan berarti bahwa kita harus mengubah dalam cara mengerjakan atau berpikir tentang sesuatu. Dengan demikian, perubahan membuat sesuatu menjadi berbeda. Perubahan merupakan pergeseran dari keadaan sekarang suatu organisasi menuju pada keadaan yang diinginkan di masa depan. Perubahan tersebut dapat terjadi pada struktur organisasi, proses mekanisme kerja, SDM dan budaya.
            Perubahan organisasional bukanlah proses sederhana. Perubahan organisasional adalah mengenal perubahan kinerja organisasi. Ikatan antara apa yang kita lakukan dengan hasilnya, lebih banyak organisasi, komitmen dan kesenangan selama proses perubahan.Kita harus berani memulai dan setiap usaha perubahan dengan perbaikan kinerja merupakan tujuan. Di sisi lain, kita harus responsif dan tanggap dengan memanfaatkan perubahan yang terjadi sebagai peluang.
            Semua organisasi merupakan bagian dari sistem sosial yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat itu sendiri memiliki sifat dinamis, selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Karakteristik masyarakat seperti itu menuntut organisasi untuk juga memiliki sifat dinamis. Tanpa dinamika yang sejalan dengan dinamika masyarakat, organisasi tidak akansurvive apalagi berkembang. Ini berarti bahwa perubahan dalam suatu organisasi merupakan kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Secara terus menerus organisasi harus menyesuaikan diri dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di lingkungannya.
Proses penyesuaian dengan lingkungan merupakan salah satu permasalahan besar yang dihadapi organisasi modern. Kecuali perubahan yang bertujuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan, organisasi kadang-kadang menganggap perlu secara sengaja melakukan perubahan guna meningkatkan keefektifan pencapaian tujuan yang sudah ditetapkan. Karena sifat dan tujuan setiap organisasi berbeda satu sama lain maka frekuensi dan kadar perubahan yang terjadinya pun tidak selalu sama. Organisasi-organisasi tertentu lebih sering mengalami perubahan, sementara organisasi lain relatif jarang melakukannya.

C. Pembatasan Masalah
Pada hakikatnya kehidupan manusia dan organisasi selalu bergerak dan diliputi oleh perubahan secara berkelanjutan. Perubahan terjadi karena lingkungan internal dan lingkungan eksternal mengalami perubahan. Oleh karenanya perubahan perlu dipahami untuk mengurangi tekanan resistensi terhadap perubahan. Resistensi perubahan adalah suatu hal yang wajar, namun bukan merupakan sesuatu hal yang tidak dapat diatasi. Resistensi dapat berasal dari individu maupun dalam organisasi. Mengingat penting dan besarnya dampak yang dapat ditimbulkan oleh proses perubahan, maka perubahan perlu dikelola denga baik. Peran dan tanggungjawab segnap stakeholder harus memahami perubahan, karena pada dasarnya perubahan memerlikan komitmen bersama.

D. Perumusan Masalah
     Dengan memperhatikan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan pembatasan masalah di atas, maka masalah yang akan dikaji dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut :
1.      Apakah dengan adanya perubahan dapat mempengaruhi pola kerja dalam suatu organisasi?
2.      Apakah yang menyebabkan adanya resistensi dalam suatu perubahan?
E. Tujuan
     Dari rumusan masalah yang ada maka tujuan secara khusus  dalam penulisan makalah ini  
    adalah untuk  mengetahui :
1.      Perubahan yang dapat mempengaruhi pola kerja dalam suatu organisasi.
2.      Penyebab adanya resistensi dalam suatu perubahan.
F. Kegunaan
    Penulisan makalah sederhana ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua 
    pihak yang terkait dalam dunia pendidikan, antara lain :
1.      Diharapkan dapat meningkatkan prestasi akademis
2.      Memberikan isyarat untuk memberikan dukungan kepada teman – teman agar mampu dan berusaha meningkatkan kemampuannya dalam belajar.



BAB II
KAJIAN TEORITIK DAN SISTESIS
A.Kajian Teoritik
Perubahan dan pengembangan organisasi adalah usaha terencana, sistematis, terorganisasi dan kolaboratif dimana  prinsip pengetahuan tentang perilaku  dan teori organisasi diaplikasikan dengan maksud meningkatkan kualitas kehidupan yang mencerminkan dalam meningkatkan kesehatan dan vitalitas organisasi, meningkatkan individu dan anggota kelompok dalam kompetensi dan harga diri dan semakin baiknya masyarakat pada umumnya. Pendapat lain mengemukakan bahwa perubahan dan pengembangan organisasi adalah serangkaian teknik ilmu sosial yang dirancang untuk merencanakan perubahan dalam pengaturan kerja dengan tujuan untuk meningkatkan pengembangan pribadi individu dan memperbaiki efektivitas fungsi organisasi.
Perubahan strategic
Dalam praktik,terlihat bahwa perusahaan-perusahaan dan taktik-taktik mereka. Adakalanya rencana –rencana tersebut merupakan sebuah variasi tentang sebuah tema umum,yang dispesifikasi pada pernyataan tentang misi tentang korporasi,atau ditempat lain. Kiranya jelas,bahwa perubahan strategic,merupakan sebuah pilihan penting untuk melaksanakan transformasi keorganisasian.
Perubahan manusia
Jelas kiranya bahwa rencana-rencana strategis, pada akhirnya perlu dilaksanakan oleh para karyawan. Kita perlu melalui perubahan yang berkaitan dengan manusia, seperti halnya perubahan yang terjadi dalam bidang teknologi atau bidang lainnya. Berulang kali telah kita mendengar bahwa sering, kali dihadapi tantangan hebat terhadap perubahan, dari pihak karyawan, (maupun dari pihak manajer sendiri). Maka dengan demikian rencana-rencana untuk perubahan yang berkaitan dengan manusia, perlu diintegrasi ke dalam strategi korporasi.
Model Adkar dikembangkan oleh seorang yang bernama Prosci pada tahun 2001, setelah ia melaksanakan kegiatan riset pada lebih dari 700 buah  perusahaan, yang melaksanakan proyek-proyek perubahan besar. Model tersebut ditujukan untuk dijadikan sebuah alat pendidikan. Guna membantu para karyawan dalam hal menghadapi proses perubahan.
Perubahan adalah transformasi dari keadaan sekarang menuju keadaan yang diharapkan di masa yang akan datang, suatu keadaan yang lebih baik. Perubahan merupakan tanda dalam kehidupan yang selalu berlangsung secara tetap. Apabila tidak terjadi perubahan, maka akan terjadi kemandegan dan kehidupan tidak dapat berkembang.
Untuk menjalankan fungsi dan peran dalam manajemen, seorang manajer memerlukan penguasan atas keterampilan tertentu. Robert Katz (Robbins, 2003 : 5) mengidentifikasi adanya tiga macam keterampilan penting yang harus dimiliki manajer, yaitu technical skills (keterampilan teknis), human skills (keterampilan kemanusiaan), dan conceptual skills (keterampilan konseptual).
Manajemen menyangkut proses, fungsi, peran, keterampilan, hierarki, dan tantangan seperti diuraikan di atas merupakan teknik dan alat analisis yang penting. Akan tetapi, manajemen berdasarkan evolusinya ternyata lebih dari itu. Manajemen adalah tentang manusia (Drucker, 2003: 172). Manajemen tugasnya adalah membuat orang mampu bekerja bersama, membuat efektif kekuatannya dan kelemahannya menjadi tidak relevan.
Maletz dan Katzenbach (Hesselben dan Johnston, 2002: 115) menjelaskan bagaimana suatu organisasi menjalankan program pengembangan manajemen,  termasuk modul klasikal, kerja lapanga kewirausahaan yang terdiri dari pengembangan bisnis riil, dan dukungan coaching dan mentoring dari akademisi, konsultan, dan ekspert industri.
Tacit knowledge terdapat dalam pikiran manusia, sehingga sulit mengartikulasi dalam tulisan dan dilakukan melalui pengalaman personal. Tantangan dalam manejemen pengetahuan adalah bagaimana mengubah tacit knowledge menjadi explicit knowledge (Michael Armstrong,, 2009 : 221).
Beberapa pengertian Manajemen Pengetahuan atau lebih dikenal sebagai Knowledge Management disampaikan Michael Armstrong (2009 : 219) berdasarkan pendapat beberapa narasumber. Menurut Scarborough et. Al., (2001), knowledge manajemen adalah “ setiap proses atau praktik dalam menciptakan, memperoleh, menangkap, berbagi, dan menggunakan pengetahuan, dimanapun letaknya, meningkatkan pembelajaran dan kinerja dalam organisasi.” Mereka menganjurkan agar manajemen pengetahuan difokuskan pada pengembangan pengetahuan dan keterampilan spesifik perusahaan yang merupakan hasil proses pembelajaran organisasional. Manajemen pengetahuan berkaitan dengan baik persediaan maupun aliran pengetahuan.
Kreitner dan kinicki (2001: 463) mengelompokkan berbagai macam perubahan ke dalam tiga macam tipologi, yaitu adaptive change, innovative change,dan radically innovative change.
Sementara itu, kreitner dan kinicki (2001:659) memerhatikan bahwa kebutuhan akan perubahan dipengaruhi oleh dua factor, yaitu external forces (kekuatan exsternal ) dan internal forces (kekuatan internal). Kekuatan exksternal berasal dari luar organisasi, sedangkan kekuatan internal bersumber dari dalam organisasi.
 Diantara para pakar ada yang menyebut factor pendorong perubahan ini sebagai kebutuhan akan perubahan (Hussey, 2000:6; Kreitner dan Kinicki, 2001 : 659). Sementara itu, Robbins (2001: 540) dan Geenberg dan Baron (2003 : 593) menyebutkan sebagai kekuatan untuk perubahan. Terminology tersebut mengandung makna bahwa kebutuhan akan perubahan lebih bersifat factor internal organisasi, sedangkan kekuatan  untuk perubahan dapat bersumber dari factor  eksternal dan internal. 
 Dalam situasi yang exstrem, perubahan organisasional dirancang untuk memutar balik aliran kas negatif dan menghindari kebangkrutan serta kematian organisasi. Terdapat lima kekuatan potensial untuk perubahan internal organisasi (ian palmer, Richard Dunford, dan Gib Akin, 2009:65).
1)      Growth pressures
2)      Integration and collaboration pressures
3)      Identity pressures
4)      New Broom pressures
5)      Power and political pressures
Dengan demikian,perubahan adalah membuat sesuatu menjadi berbeda (Robbins,2001:542). Perubahan tersebut merupakan perubahan organisasional yang merupakan transformasi secara terencana atau tidak terencana di dalam struktur organisasi,teknologi dan /atau orang (Greenberg dan Baron,2003:590).
Tujuan perubahan terencana di satu sisi untuk memperbaiki kemampuan organisasi untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan dan disisi lain mengupayakan perubahan prilaku karyawan (Robbins, 2001:542). Kebanyakan para ahli lebih banyak membahas lingkungan internal,namun sebenarnya yang lebih banyak pengaruhnya  terhadap masa depan organisasi adalah lingkungan eksternal.
Perubahan organisasi dapat terjadi pada struktur, teknologi dan orang ( Greenberg dan Baron,2003:590). Di samping itu, ditambahkan pula terjadinya perubahan dalam pengaturan fisik (Robbins,2001:543).
Perubahan terencana merupakan perubahan rutin, berulang – ulang dapat diprediksi dan dikendalikan. Untuk melakukan perubahan terencana dilakukan empat fase ( Wibowo, 2006 ), yaitu sebagai berikut :
1.      Fase Eksplorasi
2.      Fase Perencanaan
3.      Fase Tindakan
4.      Fase Integrasi
   Pada dasarnya, perubahan menurut sifatnya dapat dilakukan melalui cara yang sangat drastic sampai pada cara yang melalui adaptasi evolusioner. Meyerson (2002:59-80) memperkenalkan Tempered Radicals Change,yang sebenarnya sifatnya seperti perubahan incremental.
Saiyadain (2003:175) membedakan perubahan dalam structural Change (perubahan structural) dan Cyclical Change (perubahan siklikal).
Michael Beer dan Nitin Nohria mengunakan terminology Teori E dan Teori O untuk mendeskripsikan tujuan perubahan. Teori E mengunakan pendekatan ekonomi dan Teori O mengunakan pendekatan kapabilitas organisasi (Harvard Business Essentials,2003:10).
          Menurut Donald N. Sull ( dalam Wibowo 2006 ), bahwa jika menghadapi perubahan besar sering gagal merespons secara efektif. Masalahnya adalah adanya kecenderungan kelambanan organisasi yang berpengaruh pada pola perilaku dalam organisasi. Sull menyebutkan sebagai dinamika kegagalan, antara lain ditunjukkan beberapa kecenderungan, yaitu sebagai berikut:
vDari berfikir strategis menjadi tertutup
vDari proses menjadi rutin
vRelationship menjadi belenggu
vNilai – nilai menjadi dogma
Kemudian menurut Potts dan La Marsh ( 2004 ), kegagalan menjalankan perubahan terjadi karena perubahan memerlukan waktu lama, dan untuk mengimplementasikannya memerlukan biaya terlalu besar, sehingga menyebabkan ketidaknyamanan. Dengan demikian bila telah diputuskan untuk melakukan perubahan, harus konsisten dan komitmen untuk melanjutkannya.
Sedangkan menurut Potts dan La Marsh ( 2004 ), peran utama dalam menjalankan perubahan adalah sebagai berikut:
1)      Change advocates
2)      Sponsors
3)      Change agents
4)      Targets
5)      Stakeholders
Bridges dan Mitchell ( dalam Wibowo, 2006 ) berpendapat bahwa perubahan memerlukan tahapan transisi reorientasi psikologis yang berlangsung lambat, yaitu melalui tiga proses, sebagai berikut:
1)  Saying goodbye
2)  Shifting into neutral
3)  Moving forward
Victor Tan ( 2002 ) mengemukakan bahwa untuk mencapai keberhasilan dalam proses perubahan organisasi, pemikir harus dapat menenangkan pikiran dan hati orang. Victor Tan mengintroduksikan empat tahapan yang harus dilalui dalam proses perubahan, yaitu sebagai berikut:
a.    Membuka pikiran
b.   Menenangkan hati
c.    Memungkinkan tindakan
d.   Menghargai prestasi
Beckhard dan Harris ( dalam Kasali,2006 ) merumuskan teori – teori motivasi berubah. Mereka menyimpulkan perubahan akan terjadi bila ada sejumlah syarat, yaitu:
Ø   Manfaat biaya, bahwa manfaat yang diperoleh harus lebih besar daripada biaya perubahan
Ø   Ketidakpuasan, bahwa adanya ketidakpuasan yang menonjol terhadap keadaan sekarang yang diatasi pimpinan
Ø   Persepsi hari esok. Manusia dalam organisasi melihat hari esok dipersepsikan lebih baik
Ø   Cara yang praktis, bahwa ada cara praktis yang dapat ditempuh untuk keluar dari situasi sekarang.
Teori Contingency dikembangkan oleh Tannenbaum dan Schmid pada tahun 1973 ( dalam Kasali, 2006 ). Keberhasilan menerapkan manajemen perubahan antara lain sangat ditentukan oleh gaya yang diadpsi oleh manajemen. Teori ini berpendapat bahwa tingkat keberhasilan pengambilan keputusan sangat ditentukan oleh sejumlah gaya yang dianut dalam mengelola perubahan. Gaya dimaksud lebih menyangkut pengambilan keputusan dan implementasinya.

          Black & Gregersen ( 2003 ) membagi strategi perubahan dalam tiga kategori yaitu:
1. Perubahan antisipatif
2. Perubahan reaktif
3. Perubahan krisis
          Melaksanakan perubahan harus dilakukan melalui tahapan yang benar agar dapat mencapai tejuan yang diharapkan. Untuk memimpin perubahan secara efektif, Hussey ( 2000, dalam Wibowo 2006 ) menyarankan pendekatan langkah yang disingkat EASIER, merupakan anonim dari envisioning, activating, supporting, implementing, ensuring dan recognizing.
Pengembangan organisasi membantu manajer merencanakan perubahan dalam mengorganisir dan mengelola orang dengan mengembangkan komitmen, koordinasi dan kompetensi. Semua metode perubahan organisasional berusaha menghasilkan berbagai bentuk perubahan, baik individual, tim kerja maupun seluruh organisasi. Terdapat beberapa teknik pengembangan organisasi ( Wibowo, 2006 ) yaitu sebagai berikut:
a.    Survey feedback
b.   Sensitivity training
c.    Team building
d.   Quality of work life programs
e.    Management by abjective
Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan pemimpin untuk menjadikan organisasi pembelajaran ( Wibowo,2006), yaitu sebagai berikut:
a.    Menciptakan strategi
b.   Merancang ulang struktur organisasi
c.    Membentuk budaya organisasi baru
Menurut Robbin S ( 2003 ) budaya organisasi mempunyai empat fungsi organisasi,yaitu :
1)   Budaya mempunyai suatu peran pembeda dengan organisasi atau perusahaan lain.
2)   Membawa suatu rasa identitas bagi anggota – anggota organisasi
3)   Mempermudah timbulnya pertumbuhan komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan individual
4)   Kemampuan pada sistem sosial
Dalam hubungannya dengan aspek sosial, kebudayaan berfungsi sebagai perekat sosial yang membantu mempersatukan suatu organisasi dengan memberikan standar – standar yang tepat terhadap apa yang harus dikatakan dan dilakukan para karyawan. Akhirnya, budaya berfungsi sebagai mekanisme yang membuat makna dan kendala yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan ( Gordon, 1988 dalam Kasali,2006 )


          Budaya organisasi tidak muncul begitu saja dari suatu kehampaan. Menurut Atmosoeprapto  ( 2001 ), ada beberapa unsur budaya organisasi, yaitu sebagai berikut:
Ø   Lingkungan usaha akan menentukan apa yang harus dikerjakan untuk mencapai keberhasilan
Ø   Nilai – nilai yang merupakan konsep dasar dan keyakinan suatu organisasi
Ø   Keteladanan, yaitu pemimpin menjadi teladan terhadap karyawannya karena keberhasilannya
Ø   Upacara- upacara, yaitu rutin yang diselenggarakan perusahaan dalam memberikan penghargaan para karyawannya yang berprestasi
Ø   Network, yaitu jaringan komunikasi informal di dalam perusahaan yang dapat menjadi sarana penyebaran nilai – nilai budaya organisasi.

Rencana perubahan tidak dapat dikerjakan bila menghadapi resitensi. Karena itu tidak boleh mengecikan arti atau underestimate atas resistensi terhadap perubahan, yang disebabkan hal – hal ( Wibowo, 2006 ) yaitu sebagai berikut:
a.  Resistensi bersifat menular
b. Resistensi bersifat melumpuhkan
c.  Resistensi bersifat merintangi.
Resitensi   sering terjadi karena eksekutif dan pekerja melihat perubahan dari sudud pandang yang berbeda. Bagi manajer senior,perubahan berarti peluang,baik untuk bisnismaupun dirinya sendiri. Akan tetapi, bagi banyak pekerja,perubahan dilihat sebagai kekacauan dan gangguan. Peter Scholtes berpandangan bahwa pada dasarnya karyawan tidak menolak perubahan , tetapi mereka menolak diubah (Stettner, 2003: 61).
 Briges dan Mithell (2002:33-45) berpendapat bahwa perubahan memerlukan tahapan transisi sebagai reorientasi psikologis. Perubahan berlansung lebih lambat melalui tiga proses,yaitu sebagai berikut.
Pendekatan perubahan sekarang ini yang terjadi dengan cara tersebut dikatakan sebagai creative destruction. Pendekatan perubahan sebaiknya dilakukan dengan creative recombinasion. Creative recombinasion adalah mencabut apa yang sudah kita miliki dan mengombinasikan kembali dalam bentuk baru dan berhasil (Abrahamson,2004:xii).
Erik Abrahamson (2004:19) menambahkan tiga hal penting agar perubahan dapat dilakukan tanpa membuat pusing,yaitu sebagai berikut.
a.       Dalam lingkungan sekarang yang penuh perubahan,penting untuk tidak terlalu menggeneralisasi.
b.      No pain,no change tidak bias menjadi standar karena akan dijadikan alasan pemaaf bagi setiap bentuk perubahan yang dikelola dengan buruk.
c.       No pain,no change tidak dapat menjadi standar karena akan menjadi alasan yang siap dilakukan tentang mengapa perubahan sulit dan mengapa banyak perubahan gagal.
Menurut  (Abrahamson,2004:23).
Untuk melakukan perubahan tanpa menimbulkan kepusingan, atau change without pain, diperlukan adanya lima factor yang dikombinasikan atau digabungkan kembali dalam rangka perubahan  yaitu:
Ø  people (orang),
Ø  netwoks(jaringan),
Ø  culture(budaya),
Ø  processes(proses),
Ø  structure (struktur),
 Cara mengombinasi ulang.
Cloning yang dapat dilakukan untuk mengombinasikan kembali kelima factor perubahan tersebut adalah dengan:cloning,customizing,dan translating(Abrahamson,2004:29).
         Potts dan LaMarsh (2004:36). Melihat bahwa perubahan merupakan pergeseran dari keadaan sekarang suatu organisasi menuju pada keadaan yang di inginkan di masa depan. Perubahan dari keadaan sekarang tersebut dilihat dari sudut struktur,proses,orang,dan budaya.
Namun, sebelum mengimplementasikan perubahan,ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan (potts dan LaMarsh,2004:40),yaitu sebagai berikut.
a.       Bagaimana kita mengetahui adanyya sesuatu yang salah pada keadaan sekarang ini?
b.      Aspek apa dari keadaan sekarang ini yang tidak dapat tetap sama?
c.       Seberapa serius masalahnya?

Potts dan LaMarsh (2004:52) mengemukakan bahwa pada hakikatnya perubahan adalah bergerak dari keadaan sekarang (the current state) menuju pada keadaan baru (the desired state).
Manajemen perubahan adalah suatu proses secara sistematis dalam menerapkan pengetahuan,sarana dan sumber daya yang diperlukan untuk memengaruhi perubahan pada orang yang akan terkena dampak dari proses tersebut (potts dan LaMarsh,2004:16).

Perubahan tidak dapat secara merata dilakukan tanpa adanya persiapan yang matang. Kebanyakan kegagalan perubahan adalah karena belum siapnya kondisi untuk melakukan perubahan. Kondisi yang diperlukan untuk mendukung terjadinya perubahan adalah (Harvard Business,2003:18).

Kebanyakan perubahan dilakukan dengan pendekatan “organization in” di mana dilakukan perubahan organisasi lebih dahulu,kemudian diikuti dengan perubahan individual. Pengalaman justru menunjukkan kesimpulan sebaliknya. Keberhasilan perubahan dimulai dengan mengubah indifidual lebih dahgulu,kemudian perubahan organisasi akan mengikuti pendekatan”individual out” secara strategis mengubah organisasi dengan terlebih dahulu mengubah individual (Black dan Gregersen,2003:2).
Manusia pada dasarnya tidak mudah percaya pada sesuatu yang baru sampai mempunyai pengalaman actual sendiri tentang masalah tersebut. Sementara itu,pada zaman modern sekarang ini telah terjadi peningkatan perubahan yang sangat besar dalam lingkup,ukuran dan kompleksitas. Biaya atas keterlambatan melakukan perubahan,tidak hanya berupa ketidaknyamanan,tetapi sering merupakan bencana besar bagi suatu organisasi (Black dan Gregersen,2003:2).
Orang sering lupa bahwa suatu keberhasilan pada dasarnya menjadi awal kegagalan. Setiap perubahan penting berakar dari keberhasilan sebelumnya. Kebutuhan akan perubahan lahir dari keberhasilan sebelumnya.
Keberhasilan adalah merupakan ukuran tentang melakukan suatu yang benar dan melakukan sesuatu dengan baik (Black dan Gragersen,2003:11).
Seorang pemimpin perubahan memerlukan keterampilan tertentu untuk menjalankan organisasi. Kanter (2002:47) menyatakan bahwa orang harus diberi waktu,tanggung jawab,dan sumber daya untuk melaksanakan perubahan yang kekal. Kunci untuk menguasai perubahan adalah sebagai berikut.
Banyak orang membicarakan tentang pentingnya perubahan,dan bagaimana perubahan membuat orang menjadi lebih baik dan lebih puas. Dalam kenyataanya,perubahan baik.yang berhasil maupun yang tidak berhasil membuat pekerja mengalami stress dam dalam banyak kejadian dilakukan pemindahan terhadap orang yang baik. Untuk itu,mereka memerlukan bantuan untuk melewati perubahan tersebut (Harvard Business Essentials,2003:84).
 Pemimpin perlu mewujudkan tiga macam fungsi kunci dalam membangun learning organization (kreitner dan kinicki,2001:682),yaitu sebagai berikut.
a.       Membangun komitmen pada pembelajaran
b.      Bekerja untuk membangkitkan Gagasan dengan Dampak
c.       Bekerja menggeneralisasikan Gagasan dengan Dampak
d.      Mengubah Standar Keunggulan..
People excellence adalah tentang kompetisi dan komitmen (victor Tan,2002:79). Di era digital dimana perubahan berlansung dengan cepat,maka pengetahuan,keterampilan dan pengalaman dapat susut dengan sangat cepat. Untuk mendorong pengetahuan dan keterampilan,pemimpin harus mengembangkan learning organization di tempat kerja. Mengembangkan learning organization tidak hanya sekedar menjalankan program pelatihan dan kursus untuk staf. Akan tetapi, tentang memperkuat lingkungan kerja memberikan kesempatan pekerja belajar sambil bekerja,belajar satu sama lainnya,membagikan pengetahuan dan pengalamannyadan belajar dari praktik terbaik di dalam industry.
Menurut Rosabeth Moss kanter (2003:4),mengelola perubahan terjadi pada tiga tingkatan: change projects,change program,dan change-adept organizations.

Implikasi penundaan perubahan budaya organisasi dapat bervariasi,di antaranya adalah (1) rendah nya moral staf:(2) pergantian staf tinggi:(3) meningkatnya keluhan pelanggan (4)kehilangan bisnis dan peluang: (5) rendahnya produksi vitas:(6)lambatnya respons terhadap perubahan(7) rusaknya kinerja perusahan:dan (8)perilaku dan praktik tidak sehat di tempat kerja (Tan,2002:24).
Namun demikian,untuk menjaga agar perubahan dapat berjalan seperti diharapkan,ian palmer,Richad Dunford,dan Gib Akin (2009:376)menganjurkan untuk member perhatian terhadap masalah seperti berikut:
1.Expect Some Unanticipated Outcomes.
2.Be Alert to Measurement Limitations
3.Don”t Declare Victory Too Soon
4.Beware Escalation of Commitment.
Banyak dari segi tersebut berjalan,tetapi sering perubahan hanya hidup dalam waktu pendek. Pekerja melakukan sebagai respons pada inisiatif baru atau sebuah dorongan dari agen perubahan. Apabila telah ditinggal pergi agen perubahan,tekanan berakhir dan kembali pada cara lama dalam melakukan sesuatu atau pada perubahan berikutnya. Telah terjadi perubahan,tetapi bukan merupakan true change (jenice A. klein,2004:1).
Inovasi manajemen atau management innovation adalah segala sesuatu yang secara substansial mengubah cara pekerjaan manajement dilakukan,atau secara signifikan memodifikasi bentuk organisasi biasa,dan dengan melakukan demikian menguntungkan organisasi. Management innovation mengubah cara apa yang dilakukan manajer dan melakukannya dengan cara yang meningkatkan kinerja organisasi (Gary Hamel dan Bill Breen,2009:19).
            Pendapat lain dikemukakan oleh Wibowo (2006 : 37) bahwa perubahan adalah suatu proses secara sistematis dalam menerapkan pengetahuan, sarana dan sumber daya yang diperlukan untuk mempengaruhi perubahan pada orang yang akan terkena dampak dari proses tersebut. Manajemen perubahan pada orang yang terkena dampak dari proses tersebut.  Manajemen perubahan ditujukan untuk memberikan solusi bisnis yang diperlukan dengan sukses dengan cara yang terorganisir dan metode melalui pengelolaan dampak perubahan  pada orang yang terlibat di dalamnya.
Dalam implementasi perubahan, secara manajerial dikenal adanya peristilahan yang penting terkait dengan agen perubahan (a change agent). Agen perubahan adalah seorang kelompok yang bertanggung jawab untuk mengubah pola perilaku yang ada pada orang tertentu atau system sosial. Di samping peristilahan tersebut, menurut Potts dan LaMarsh (2004) dan Wibowo (2006:39), agar organisasi mampu berdaya saing yang kompetitif dikenal adanya pameran utama dan menyangkut pula tanggung jawab manajemen perubahan, yaitu sebagai change advocates, sponsors, change agents, targets, dan stakeholders.
Keberhasilan suatu perubahan organisasi berakar pada komitmen manajemen, (1) komitmen internal, adalah merupakan komitmen yang berasal dari diri seseorang untuk menyelesaikan berbagai tugas, tanggung jawab dan wewenang berdasarkan pada alasan dan motivasi yang dimilikinya, (2) komitmen eksternal dibentuk oleh lingkungan  kerja. Komitmen ini muncul karena adanya tuntutan adanya penyelesaian tugas dan tanggung jawab yang diselesaikan oleh para karyawan yang menghasilkan adanya reward dan punishment (Rokhman, dalam Sutjipto, et. Al. (2002 : 126).
Dalam perubahan yang dianggap perubahan yang direncanakan dalam artit mencakup suatu upaya yang dilakukan secara sadar guna mengubah aspek tertentu dan dari bisnis tertentu. Perubahan yang direncanakan dalam keorganisasian menurut Winardi (2005 : 92 – 94) terkait dengan perubahan strategic, perubahan teknologikal, perubahan structural, perubahan manusia. 
Setiap perubahan, menurut Winardi (2005: 17-18), senantiasa diawali dengan kondisi yang berlalu sebagai kondisi das sein, kondisi yang berlaku erat kaitan dengan beraneka masalah yang ada intinya merupakan deviasi dari kondisi yang diharapkan dan kondisi riil. Pemecahan masalah pada hakikatnya diperkecil celah gap antara kondisi yang diharapkan dengan kondisi riil tersebut. Alam kondisi das sein tersebut, manajer puncak perlu mencari penyebab (cause analysis) dan analisis SWOT banyak membantu. Dengan sendirinya aspek lingkungan, aspek nilai, dan sumber daya perlu disoroti dan dianalisis.
Selanjutnya, Platt (1998) dan Kasali (2005: 110 – 111) juga membedakan perubahan ke dalam tiga kelompok, yaitu transformasi korporat, turnaround, dan manajemen krisis. Ketiga strategi tersebut dijalankan menurut kondisi yang berbeda-beda pada keadaan perusahaan yang sedang menurun. Ia juga membedakan strategic turnaround dengan operating turnaround. Strategic turnaround dilakukan untuk mengubah strategi untuk bersaing dalam bisnis yang sama (meningkatkan pangsa pasar) atau memasuki bisnis baru.  
Dijelaskan oleh Kasali (2005:112) bahwa dalam praktiknya, para manajer atau CEO melakukan perubahan dengan menggunakan berbagai teknik.  Orang – orang yang dibesarkan dalam tradisi ilmu keuangan/akuntansi/perbankan umumnya cenderung menggunakan metode yang terakhir. Namun demikian, setelah melewati beberapa waktu umumnya mereka menyadari teknik itu saja (the hard side of change) tidak cukup. Mereka mau tidak mau harus memasuki dimensi kemanusiaan yang mencakup masalah-masalah, seperti motivasi, kerja sama, komitmen, kepercayaan, dan nilai-nilai organisasi. Hanya dengan cara beitulah perubahan dapat lebih memberikan nilai. Tanpa menyentuh sisi lunak dari perubahan ini, keberhasilan Cuma akan berumur pendek dan dikemudian hari sulit diulangi.
Perubahan menurut pasmore, berlangsung dalam 8(delapan) tahapan secara berurutan, yaitu : (1) persiapan, (2) analisis kekuatan dan kelemahan, (3) mendesain suborganisasional baru, (4) mendesain proyek, (5) mendesain system kerja, (6) mendesain system pendukung, (7) mendesain mekanisme integrative, (8) mengimplementasikan peru-bahan (Wibowo, 2006 : 94 – 98).
Perubahan biasanya tidak bisa berjalan tanpa adanya kerjasama dari semua pihak. Teori kerja sama menjelaskan mengapa manusia mau bekerja sama dan bagaimana memperoleh kerjasama. Ada beberapa penjelasan mengapa manusia mau melakukan kerjasama (Williams, Woodward, & Dobson, 2002), Kasali (2005: 106 – 107 ), yaitu sebagai berikut.
·         Motivasi memperoleh rewards atau khawatir akan mendapatkan punishment. Misalnya berharap akan memperoleh imbalan keuangan, kepuasan bekerja, pekerjaan yang lebih menyenangkan, atau khawatir sebaliknya.
·         Motivasi kesetiaan terhadap profesi, pekerjaan, atau perusahaan.
·         Motivasi moral, karena dengan bekerja sama dapat diterima secara moral.
·         Motivasi menjalankan keahlian.
·         Motivasi kepatuhan terhadap kekuasaan.
Alvar O. Elbing (dalam Winardi, 2003: (66) mengklasifikasi berbagai macam komponen dari lingkungan eksternal yang mendorong perubahan, dibedakan ke dalam dua macam kategori: (1) komponen-komponen aksi langsung (direct-action components) aksi tidak langsung (indirect-action com ponents). Selanjutnya, dikemukakan oleh Elbing (2004:283), komponen-komponen aksi langsung menimbulkan pengaruh langsung terhadap kinerja organisasi yang bersangkutan, sedangkan komponen-komponen aksi tidak langsung yang mempengaruhi iklim di mana organisasi yang bersangkutan beroperasi, dan dalam kondisi-kondisi tertentu ada kemungkinan bahwa mereka menjadi aksi langsung.
Resistensi bersifat menghambat perubahan sehingga harus diatasi. Untuk mengatasi resistensi tersebut diperlukan adanya beberapa strategi yang harus dijalankan, yaitu terdiri atas enam hal : (a) membentuk dinamika politik, (b) mendidik angkatan kerja, (c) mengikut sertakan pekerjaan pada usaha perubahan, (d) menghargai perilaku konstruktif, (e) menciptakan organsasi pembelajaran, dan (f) memperhitungkan situasi (Wibowo, 2006 : 70 – 76).
Kesulitan dalam mengatasi hambatan dalam perubahan adalah terutama apabila perubahan tidak direncanakan secara lengkap dan matang. Rencana perubahan dilakukan secara parsial dan tidak mengakomodir berbagai konsekuensi dari perubahan tersebut. Resiko semacam ini perlu diperhitungkan agar tidak menyederhanakan keinginan untuk melakukan perubahan.
Hunt dan Osborn (dalam Kast dan James E. Rosenzweig, 2002 : 515) menggambarkan dua jenis kepemimpinan perubahan sebagai berikut:
·         Kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang ditentukan oleh peran pemimpin dan secara konseptual sama dengan perilaku supersivori standard dan kepekaan (hadship).
·         Pemimpin bebas (discretionary leadership), melibatkan intervensi pemimpin di luar yang ditentukan oleh perannya. Konotasi ini menekankan  peranan pemimpin dalam menjelaskan respons perilaku yang lebih ari pada yang rutin.
Menurut Siagian (2001 : 22), ada dua jenis keterampilan manajemen agar mampu melakukan perubahan organisasi, yaitu keterampilan manajerial dan keterampilan teknikal “Rumus” yang dapat digunakan untuk menjelaskan pengertian ini ialah bahwa semakin tinggi kedudukan manajerial seseorang, ia semakin memerlukan lebih banyak keterampilan teknikal. Alasan utamanya ialah karena ia semakin “jauh” dari kegiatan-kegiatan operasional. Sebaliknya, semakin rendah kedudukan manajerial seseorang, ia semakin memerlukan keterampilan teknikal, meskipun keterampilan manajerial sudah harus dimilikinya karena ia sudah mempunyai seoragng atau beberapa  orang bawahan yang bertanggung jawab dan bertugas menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya semata-mata teknik operasional.
Perubahan akan kebutuhan keterampilan dalam organisasi dikaitkan dengan kredibilitas dan profesionalitas memiliki tiga perangkat berikut secara memadai, yaitu: (1) perangkat-insani (humanware) (2) perangkat-keras (hard-ware); dan (3) perangkat-lunak (software), (Muhammad 2005 : 168).

Perubahan organisasi bukan bersifat statis, tapi mempunyai sifat yang dinamis sesuai dengan perkembangan dan pembelajaran organisasi. Menurut Atmosoeprapto (2001, dalam Muljono, 2003:22-23), perubaan budaya suatu organisasi tidak muncul begitu saja dari suatu penghampaan. Perubahan organisasi itu dibentuk dan dikembangkan sesuai dengan dinamika dan perkembangan suatu organisasi. 
 Pada akhirnya diperlukan orang yang harus bertanggung jawab terhadap proses perubahan. Agen perubahan adalah orang yang bertindak sebagai katalis dan memperkirakan tanggung jawab untuk mengelola aktivitas perubahan (Robbins,2001: 543).







B. Kerangka Berpikir
Manajemen Perubahan adalah suatu proses sistematis dalam menerapkan pengetahuan   sarana dan sumber daya yang diperlukan untuk mempengaruhi perubahan pada orang yang terkena dampak dari proses perubahan tersebut. Manajemen perubahan ditujukan untuk memberikan solusi bisnis yang diperlukan secara sukses dengan cara yang terorganisir dan metode, melalui pengelolaan dampak perubahan orang yang terlibat.
Secara konseptual, manajemen merupakan proses dan fungsi mengoptimasikan, mengkoordinasikan dan mengintegrasikan sumber daya manusia dan kompetensinya, sumber daya material yang wujud dan tak wujud dalam menunjang pelaksanaan pekerjaan untuk mencapai tujuan secara rasional, efektif dan efisien. Sedangkan konsep perubahan merupakan beralihnya keadaan sebelumnya( the before condition ) menjadi keadaan setelahnya ( the after condition ). Transisi kondisi awal hingga kondisi kemudian memerlukan suatu proses transformasi yang tidak selalu berlangsung secara lancar, mengingat bahwa perubahan sering kali disertai dengan resistensi atau konflik yang muncul. Salah satu sasaran manajemen perubahan mengupayakan agar proses trasformasi dalam waktu yang relatif cepat dengan kesulitan yang seminimal mungkin

Secara definitif,   memformulasikan  konsep perubahan adalah proses dimana kita pindah dari kondisi yang berlaku menuju kondisi yang diinginkan yang dilakukan oleh para individu, kelompok serta organisasi dalam hal bereaksi terhadap kekuatan dinamik baik internal maupun eksternal.  Secara konseptual, manajemen perubahan,   terkait perubahan pada dasarnya membuat sesuatu menjadi lain. Dalam konteks ini, membuat sesuatu menjadi lain dalam arti yang positif yang mengarah kepada yang lebih baik atau sebaliknya.
Manajemen  perubahan diberikan untuk memberikan solusi bisnis yang diperlukan dengan sukses dengan cara yang terorganisir dan dengan metode melalui pengelolaan dampak perubahan pada orang yang terlibat di dalamnya. Dalam perubahan yang dianggap perubahan yang direncanakan dalam arti mencakup suatu upaya yang dilakukan secara sadar guna mengubah aspek tetentu. Perubahan yang direncanakan dalam keorganisasian  terkait dengan perubahan strategik, perubahan teknologikal, perubahan struktural dan perubahan manusia
C. Sintesis
Dari berbagai konsep, teori dan pandangan para pakar menunjukkan bahwa perubahan merupakan fenomena yang harus dihadapi dan tidak dapat dihindari. Perubahan terjadi karena adanya faktor pendorong eksternal dan secara internal telah tumbuh pula  tuntutan akan perlunya melakukan perubahan. Perubahan sudah menjadi kebutuhan. Perubahan bukan hanya ditujukan terhadap organisasi, tetapi yang tidak kalah pentingnya melakukan perubahan terhadap sumber daya manusia, karena sumber daya manusia yang menjadi advocate, sponsor, agen dan target perubahan. Namun melakukan perubahan tidak selalu mudah karena akan menghadapi banyak resistensi baik pada tingkat individual, kelompok maupun organisasional. Akan tetapi resistensi bukanlah menjadi masalah yang tidak dapat diatasi. Resistensi individu perlu diatasi terlebih dahulu apabila berhasil akan lebih mudah mengatasi resistensi ditingkat organisasi.
Manajemen merupakan suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan penggunaan sumber daya dalam rangka mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Oleh karena itu perubahan harus dipahami, dikelola dan diciptakan. Dengan membuat atau menciptakan perubahan kita akan mampu memperoleh manfaat dari perubahan tersebut.
Dari pemahaman tersebut diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa Manajemen Perubahan itu adalah:  proses Perencanaan, Pengorganisasian, Pengarahan dan Pengawasan penggunaan sumber daya dalam rangka menghadapi berpindahnya sesuatu dari  kondisi asalnya menjadi sebuah kondisi yang baru guna tercapainya tujuan organisasi secara efektif dan efisien. Mempelajari Manajemen Perubahan adalah sebuah kegiatan mempelajari bagaimana melakukan seluruh fungsi manajemen dalam rangka menghadapi perubahan dan menyelaraskannya dengan sumber daya yang ada guna tercapainya tujuan secara efektif dan efisien. Tidak banyak orang yang suka akan perubahan, namun walau begitu perubahan tidak bisa   dihindarkan & harus dihadapi. Karena hakikatnya memang seperti itu maka diperlukan satu manajemen perubahan agar proses dan dampak dari perubahan tersebut mengarah pada titik positif.




















BAB III
  PENUTUP

A.     Kesimpulan

Dari berbagai konsep,teori dan pandangan para pakar dapat disimpulkan bahwa perubahan merupakan fenomena yang harus dihadapi dan tidak dapat dihindari. Perubahan.terjadi karena adanya faktor pendorong eksternal,dan secara internal telah tumbuh pula tuntunan akan perlunya melakukan perubahan. Perubahan sudah menjadi kebutuhan. Perubahan bukan hanya di tujukan terhadap organisasi,tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan perubahan terhadap sumber daya manusia yang menjadi advocate,sponsor,agen,dan target perubahan.

B.     Saran
 Para  manajer disaranka dapat  melakukan  pembinaan untuk suatu perubahan yang konstruktif pada seluruh organisasi. Ketika ide perubahan disampaikan kepada seluruh lapisan organisasi sebagai sebuah  mainstream, maka dengan sendirinya perlu dibarengi oleh perubahan infrastruktur pembinaan yang sudah ada, yang dapat mengatasi segala bentuk resistensi, sehingga mereka terdorong untuk  mencoba dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang telah direncanakan.
















DAFTAR PUSTAKA

Beer, Michael, 2002, Breaking the Code of Change, USA: President and Fellow of Harvard College.
Davidson, Jeff, 2005, Change Management, The Complete Ideal’s Duides, Jakarta: Prenada.
 Ismail Nawawi Uha, MPA, M.Si. 2014. Manajemen Perubahan. Teori dan Aplikasi pada    organisasi Publik dan Bisnis. Bogor : Ghalia Indonesia
Muhaimin dkk, 2010, Manajemen Pendidikan, Jakarta: Fajar Interpratama Offset.
Mulyasa. E, 2007, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
M . Nur Nasution, M.Sc., APU. 2010 Manajemen Perubahan. Bogor : Ghalia Indonesia
Potts, Rebecca and LaMarsh, 2004, Managing for Success, London: Duncan Baird Publishers.
Wibowo, 2006, Pengantar Manajemen Perubahan, Pemahaman Tentang Mengelola Perubahan dalam Manajemen, Bandung: LFABETA.
Wibowo, S.E., M. Phil. 2012. Manajemen Perubahan Edisi ketiga. Jakarta: Rajawali Pers
Winardi, Prof.Dr.J., S.E., Manajemen Perubahan, Prenada Media, Jakarta, 2005.
www.mm.ustjogja.ac.id%2Fdownload%2FMakalah%2520III.doc&ei=, di download pada hari Rabu, 22  oktober  2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar